Politisi Dalam Tahun Monyet Api Semakin Rakus Sama Jabatan

Menurut kalender Lunar, tahun 2016 merupakan Tahun Monyet Api. Tahu kan monyet? Itu binatang mamalia yang rakus dan hobinya makan timun dan kacang. Terlepas dari kepercayaan China, tahun 2016 ini memang banyak politisi yang rakusnya –maaf– seperti monyet. Sudah punya jabatan tinggi masih pengin lagi jabatan lain. Sudah jadi pengusaha kaya, masih juga ngobyek jadi penggiring proyek di Kementerian.
Rakus itu satu kantor dengan tamak, yakni watak yang tak puas dengan miliknya yang sudah berlebihan. Seekor monyet yang masuk ke kebun pak tani, dia terus makan kacang atau timun meski kantong mulutnya sudah menggembung dengan makanan itu. Sepertinya dia takut jika tidak kebagian, karena diambil oleh monyet-monyet yang lain.
Dalam dongeng fabel juga diceritakan, bagaimana monyet jadi “hakim” yang korup. Ketika dua ekor kucing berebut keju, monyet mengadili dengan motif untuk menguntungkan diri sendiri. Keju itu dibagi dua. Bila nampak masih banyakan sebelah, langsung digigit dan ditelan. Begitu seterusnya, gigit sana gigit sini, sampai akhirnya dua ekor kucing itu tak kebagian, lantaran kejunya habis dimakan sendiri oleh si monyet.
Keserakahan semacam itu mengingatkan kita pada perilaku sejumlah politisi kita di Senayan. Jadi anggota DPR gajinya sudah tinggi, masih juga cari obyekan mengawal proyek Kementerian. Akhirnya belum lama ini seorang anggota DPR dari PDIP kena batunya, dia ditangkap KPK karena tertangkap basah terima suap proyek PU di Maluku.
Ada lagi, sudah tenang jadi Ketua DPR, digosok-gosok agar mau jadi Ketum Golkar juga. Yang digosok-gosok sih hingga saat ini mengaku tak berminat, tapi jika gosokannya semakin maut, bisa juga jadi tergiur. Soalnya, jadi Ketum parpol sama saja punya tiket untuk nyalon presiden, meski tak ada jaminan dapat “tempat duduk” seperti ARB tempo hari.
Orang yang tamak, orag yang rakus, dalam perspektif agama bisa disebut sebagai manusia yang tak pandai bersyukur. Dia tak pernah merasa puas, selalu haus akan simbol-simbol duniawai, bagaikan orang minum air laut. Padahal dalam Islam sudah diingatkan (QS Ibrahim ayat 7), yang selalu bersyukur akan ditambah terus nikmatnya. Tapi bagi yang mengingkari, siksa Allah itu sangat pedih (tulisan adzabun syadid 9 Februari 2016)
Baca Juga :

0 Response to "Politisi Dalam Tahun Monyet Api Semakin Rakus Sama Jabatan"

Baca Juga ...

loading...