Ilustrasi.
Theng Sai, singa yang terbuat dari bahan tepung terigu, gula pasir dan kacang ini wajib selalu ada dalam perayaan Imlek dan Cap Go Meh.
Dalam tradisi budaya warga Tionghoa, Theng Sai yang berbentuk singa tersebut, nantinya akan disimpan di vihara-vihara.
Yongky yang sudah berumur 63, merupakan satu di antara pengrajin Theng Sai yang masih bertahan hingga kini meneruskan usaha leluhurnya.
"Harga jualnya variasi, tergantung ukuran, kalau yang paling kecil harganya Rp 50 ribu, kalau sedang Rp 50 ribu, kalau yang besar sekitar Rp 300 ribu," ungkapnya di kediamannya di Gang Gajahmada 14 No 83, Jl Gajahmada, Pontianak Selatan.
Theng Sai menurut Yongky digunakan dalam sembahyang pada awal tahun. Sebagai wujud meminta rejeki, keberuntungan atau bahkan meminta jodoh dan keturunan.
"Tergantung permintaan orang yang bersangkutan. Sesuai dengan yakinnya dia minta apa, dia bawa pergi sembahyang ke vihara. Inikan namanya kepercayaan, tradisi yang sudah dari nenek moyang," jelasnya
Untuk pewarnaannya, Theng Sai karya Yongky ini menggunakan cat minyak. Selain itu, menurutnya pula, Theng Sai buatannya dapat bertahan hingga satu tahun kedepan.
"Ini sudah turun temurun, saya sejak usia 13 tahun sudah belajar membuat ini. Anak saya empat, tapi belum ada yang terusin ini, mereka kan kerja, tapi selagi saya masih bisa, saya buat," paparnya
Dalam setiap tahunnya, pria berusia 63 tahun ini menerima pesanan hingga mencapai 300 Theng Sai.
300 Theng Sai itu, merupakan pesanan dari pelanggan lamanya, yang selalu memesan setiap tahun sejak ia mulai menekuni pembuatan Theng Sai belasan tahun silam.
Ayah empat anak ini, tak jarang menerima pesanan hingga ke negeri jiran, Malaysia. Dalam sehari, Yongky bersama lima pekerja lainnya dapat mengerjakan sekitar sepuluh Theng Sai. Untuk mencapai 300 pesanan tersebut, ia harus menghabiskan waktu selama satu bulan.
Rumitnya pola dan motif Theng Sai karyanya ini, seluruh proses pembuatannya dilakukan secara manual menggunakan tangan. Seluruh bahan dijadikan satu adonan layaknya pembuatan kue, yang kemudian dipola saat adonan masih dalam kondisi panas.
Seperti yang dikutip Pontianakpost.com berikut cuplikannya :

0 Response to "Kue Singa Cap Go Meh ini Tidak Untuk Dimakan"
Post a Comment