
Guru sejati : " Hari ini jangan membawa hati yang ingin melihat keramaian datang kesini (vihara) , siapakah yang tidak mempunyai karma ? Selama 60.000 tahun, setiap orang membawa dosa dan karma datang ke dunia, hari ini berkat welas asih dan karunia TUHAN YME , mengijinkan Guru membawa arwah datang ke sini, kiranya murid-muridKu semua bisa tenang. Dengan membawa perasaan melimpahkan jasa, perasaan penuh pertobatan dan hati yang penuh rasa iba untuk menyaksikan peristiwa ini ! Geserlah kursi-kursi ini ke samping. Apakah anak itu (Liu Chiu Ling ) boleh berlutut ?
Hadirin : " Boleh ".
Guru Sejati : "Biarkan dia duduk di pai tien ( jok sembahyang ) Siapkan lebih banyak orang ! Duduklah dengan tenang ".
Arwah : "Hu .... Hu ... ( suara tangisan ) . Guru yang welas asih , saya sudah lama mencarinya, saya mau mencarinya . Hu ..... Hu .... Saya mau mencarinya "
Guru Sejati : "Kamu sabar dulu , Saya akan berikan kamu keadilan, jangan buang-buang waktu, cepatlah menyingkir "
Guru Sejati bertanya kepada hadirin : " Sudah lihat ? Setiap orang bukan hanya memiliki 1 karma. Sudahlah , Guru berharap hari ini kalian bisa menenangkan hati, dengan hati yang penuh rasa iba , limpahkan jasa, berikan kepada semua umat di dunia, bagaimana ?"
Hadirin : " Baik "
Guru Sejati : " 4 Raja Langit 四大天王dan puluhan ribu Bodhisatva sudah berada di sekeliling vihara melindungi kalian. Saya Ci Kung 濟公 yang tidak mempunyai kemampuan dan tidak mempunyai kebajikan, tidak sanggup sepenuhnya melindungi kalian, sehingga pembinaan diri kalian belum tentu tanpa rintangan, Guru juga mengharapkan kalian juga bisa melakukannya dengan sepenuh hati, bagaimana ?"
Hadirin : "Baik "
Guru Sejati : "Kalian pertama kali menjalankan pekerjaan ini. Kalian sendiri harus berhati-hati"
Hadirin : "Terima kasih atas welas asih Guru "
Guru Sejati : "Kuasai situasi, jangan sampai dia (arwah) beranggapan kalian takut kepadanya, mengerti ? Guru sangat khawatir akan kalian ! Guru tidak berpanjang lebar lagi, kiranya kalian bisa tenangkan hati, jangan terpengaruh oleh keadaan luar ."
( Setelah Guru Sejati pergi, arwah langsung merasuki raga San Chai Tri Duta )
Arwah : "Lepaskan saya! Jangan pegang saya ! Kalian lepaskan tangan saya !"
Pandita : "Pegang dia ! Kamu tenang dulu, ada masalah apa pelan-pelan dibicarakan "
Arwah : "Tidak perlu membicarakan tentang aturan. Lepaskan saya ! Pergi ! Kau bukan wanita dalam keluarga saya. Jangan membicarakan tentang aturan pada saya "
Pandita : "Kamu tenang dulu, simpan dulu kebencianmu "
Arwah : "Nyawaku sudah melayang, apakah masih bisa tenang ?"
Pandita : "Nyawamu sudah tiada, itu adalah masa lalu "
Arwah : "Jangan membicarakan masa lalu denganku, yang kulihat adalah yang sekarang , pergi ! (nampaknya arwah ini sangat terharu ) . Saya mau melihat dia ( yang dimaksud Liu Chiu Ling ) "
Pandita : " Tapi kamu (arwah ) tidak boleh menyakitinya ! Liu Chiu Ling kamu duduk lebih dekat kesini , arwah ini mau melihatmu "
Arwah : "Berikan saya kursi, saya mau minum air suci. Saya tidak mau duduk di sini, saya tidak mau melihat Pelita Budha . Jangan tarik saya, saya bisa jalan sendiri "
Pandita : "Biarkan dia mendekat, jangan terus tarik dia. Bukankah kamu ingin minum air suci ?"
Arwah : "Sekarang saya sudah tidak mau !"
Pandita : "Kenapa berbicara begitu ? Bukankah kamu tadi mengatakan ingin air suci ?"
Arwah : "Huh ..... ! Tidak mau ya tidak mau " ( dengan nada ketus )
Pandita : "Kamu dengan dia ada rasa dendam apa ? Guru tadi berpesan , jadi sekarang kamu boleh katakan "
Penceramah : "Guru ada memberi Firman kepada Dian Chuan Shi ( 點傳師 Pandita ) untuk membantumu "
Arwah : "Saya tidak mau duduk di tempat ini. Saya tidak mau duduk begini "
Pandita : "Baiklah ! Dia ( Liu Chiu Ling ) berlutut di sana, kamu (arwah ) ada masalah apa , boleh kamu utarakan sekarang "
Arwah : "Lepaskan saya, saya tidak suka kalian. Hu ... Hu ... ( sambil menangis tersedu-sedu ) saya datang ke sini, kalian semua mengganggu saya . Hu .... Hu .... "
Penceramah : "Kami tidak mengganggu kamu, kami hanya membantu kamu "
Pandita : "Kamu ada masalah apa pelan-pelan utarakan, karena waktu terbatas. Atas Karunia dari TUHAN YME 老㊥ , Firman dari Guru, agar saya bisa membantu kamu menyelesaikan masalah ini. Coba kamu tenangkan hatimu terlebih dahulu"
( Liu Chiu Ling pada saat itu berteriak-teriak )
Pandita : "Coba kamu lihat, sekarang dia ( Liu Chiu Ling ) sudah menjadi seperti ini ( dalam keadaan kurang sadar ) . Pepatah mengatakan lebih baik mencari teman daripada mencari musuh. Ada kekesalan apa dihatimu, lekas katakan ! Kami bisa membantumu. Ini kesempatan yang Guru berikan kepadamu, jangan disia-siakan. Kamu ada minta syarat apa, katakan saja ! "
Arwah : "Saya ingin dia mati ! Saya ingin dia mati !"
Pandita : "Anda ingin dia mati juga percuma "
Arwah : "Setidaknya dalam perjalanan menuju ke neraka saya tahu dia sudah mati, maka saya akan merasa tenang dan puas "
Pandita : "Walaupun dia mati, kamu juga tidak bisa bereinkarnasi, amarahmu juga tidak bisa reda "
Penceramah : "Kamu berikan dia kesempatan untuk beramal agar pahala bisa dilimpahkan kepadamu, TUHAN dan Guru pasti memberimu waktu "
Arwah : "Jangan bicara soal waktu padaku. Saya sudah tidak mempunyai waktu lagi !"
Pandita : "Kalau demikian kamu harus ceritakan dari awal sebab-musababnya karma ini dengan jelas dan kapan terjadinya ?"
Penceramah : "Kami akan memberitahukan masalahmu ini kepada semua umat dan para hadirin di sini. Mereka akan mengetahui bila itu salah. Dan kelak mereka akan menggunakannya dalam diri mereka dan menghargainya, sehingga mereka dapat berhati-hati dalam membina diri, dengan demikian kamu juga bisa mendapatkan amalnya, apakah kamu mengerti ?"
Pandita : "Anda tidak membuka mulut, kamu juga tidak bisa mengerti "
( Pada saat itu arwah menerjang ke arah Liu Chiu Ling )
Pandita : "Pegang dia !"
( Pada saat arwah pertama (wanita ) seketika meninggalkan raga San Chai, bersamaan saat itu arwah kedua ( pria ) datang memasuki raga San Chai )
Arwah kedua (pria) : "Lepaskan saya , saya tidak akan bicara, saya tidak akan bicara "
Pandita :"Satu orang lagi datang untuk membantu. Tenangkan dulu hatimu ( arwah kedua ) ." Biarkan dia duduk terlebih dahulu ( Pandita berbicara kepada para petugas pelaksana vihara 辦事人員 ) "
Arwah pertama : "Liu Khuen ( arwah kedua ) kau duduk saja, disini saya yang pegang peranan, kau duduk saja "
( Arwah kedua ( pria ) lalu meninggalkan badan San Chai )
Pandita : "Ada masalah apa coba katakan dengan jelas, kalau seperti ini terus tidak ada jalan untuk menyelesaikannya. Apakah kalian hanya berdua atau bahkan lebih ? Siapa namamu ? Dan pada dinasti apa ? "
Arwah : "Lupa !"
Pandita : "Kenapa bisa lupa ? Bila demikian , saya tidak bisa membantu menyelesaikan permasalahanmu "
Arwah : "Saya memang tidak ingin diselesaikan, saya hanya ingin mengulur-ulur waktu saja "
Pandita : "Lalu kenapa kamu datang dengan Guru ? Bukankah Guru memberi kamu 1 kesempatan ?"
Arwah : "Kalau saya suka, kamu mau apa ?"
Pandita : "Jangan begitu. Malam ini kita perjelas masalah ini. Dilihat dari gayamu, apakah kamu orang yang hidup pada jaman kedinastian ?"
Penceramah : "Apakah kamu seorang nona ?"
Arwah : "Saya bukan pria , bukan wanita , saya adalah Dewa "
Penceramah : "Anda tenang dulu, katakanlah sebab-sebabnya, agar bisa membantu semua orang, dengan demikian kamu adalah Dewa. Bila hatimu masih ada kebencian maka kamu bukanlah Dewa "
Arwah : "Apakah boleh saya tidak cerita , kalau mereka mengetahui cerita saya, lalu membina diri, menyebarluaskan KeTuhanan ( TAO ) , mereka menjadi Dewa , lalu saya dimana ?"
Pandita : "Setidaknya anda masih mempunyai kesempatan untuk reinkarnasi "
Arwah : "Tidak ada kesempatan lagi, keadaan sekarang kamu menyuruhku reinkarnasi, reinkarnasi dimana ? Setan juga naik surga , saya bikin apa ? Mohon apa ?"
Penceramah : "Kenapa tidak bisa ?"
Arwah : "Dia lari kemana ?" ( yang dimaksud Liu Chiu Ling )
Pandita : "Ada. Ada disana. Bawa dia ke samping sini "
Arwah : "Hu ... Hu .... Saya mau papa, saya mau mama , kalian semua membantunya. Siapakah yang membantuku ? Mana orang tuaku ? Mereka dimana ? Mengapa tidak datang membantuku ?"
Pandita : "Apakah mereka yang mencelakaimu ?"
Arwah : "Hu .... Hu ... Saya tidak tahu . Saya tidak tahu dimana papa dan mama ?"
Pandita : "Sekarang berapa usia kamu ? Apakah kamu seorang anak kecil ?"
Arwah : "60.000 tahun "
Pandita : "Bagaimana bisa umurmu 60.000 tahun . Kamu jangan bandel . Kamu bermarga apa ?"
Arwah : "100 tahun. Marga ? Marga saya Bai Jia Xing 百家性( mencakup semua marga ) Marga Wan 顽( nakal ) Kalian sungguh menjengkelkan. ”
Pandita : "Tenangkan dulu hatimu "
Arwah : "Kalau saya bisa lepaskan semuanya, saya sudah menjadi Budha , buat apa masih duduk di sini ?"
Pandita : "Anda masih mempunyai kesempatan untuk mencapai KeBudhaan . Coba ceritakan riwayatmu , bagaimana kejadian itu terjadi ? Agar kami dapat membantu menyelesaikannya "
Penceramah : "Dia pernah melakukan kesalahan apa ?"
Arwah : "Dia melakukan kesalahan tak terampuni. Membunuh, membakar, semua dia lakukan "
Pandita : "Pada kehidupan kapan dia mencelakaimu ? Dinasti apa ? Tolong katakan dengan jelas !"
Arwah : "Pada dinasti Yao 堯 " ( dinasti Yao sebelum Masehi )
Pandita : "Tidak mungkin pada masa itu punya masalah "
Arwah : " Ha ... Ha ... ternyata kalian orang yang membina diri masih mempunyai akal kebijakan , ini yang membuat saya masih memandang kalian"
Pandita : "Bawa dia ( Liu Chiu Ling ) kemari , coba kamu (arwah ) tenang , kamu ambil nyawanya , juga tidak ada manfaatnya untuk kamu "
Arwah : "Kenapa tidak ada manfaatnya, manfaatnya banyak sekali. Saya tidak memberi dia kesempatan "
Pandita : "Dia telah memohon KeTuhanan ( 求道 memohon Tao ) , bila dia mati yang kamu dapat hanya badan raganya. Rohnya tetap kembali ke Nirwana "
Arwah : "Bawa dia kesana . Saya benci dia . Bila memang betul bisa jadi Dewa , sayapun tidak ingin melihatnya ( arwah sempat berulang kali memukul tangan dari petugas pelaksana vihara yang menjaganya ) Pergi ! "
Arwah : "Marga saya Yang "
Pandita : "Siapa nama kamu ? Kalau dilihat sepertinya wanita. Betul tidak ?"
Arwah : "Saya bernama Yang Gui Fei "
Pandita : "Mana mungkin, Yang Gui Fei cuma satu "
Arwah : " Pergi !" ( sambil berteriak dan menangis )
Pandita : "Jangan emosi. Lanjutkan ceritamu. Waktu terbatas, kalau kamu ribut terus, kami akan membakar dupa besar mengundang Fa Li Zu 法律主 ( Budha Penegak Hukum關Guan 张Zhang 呂Lv 岳 Yue ) yang mengambil keputusan. Guru memberi kamu kesempatan ini untuk memberi kesaksian karena kamu mempunyai jodoh , Bila Fa Li Zu hadir maka kamu tidak mempunyai kesempatan lagi. Jauhkan perasaan Tamak , Dengki dan Kedunguan batin , cepatlah cerita !"
Arwah : "Nama saya Yang Gui Fei . Tidak percaya ya sudah ! Saya berumur 60.000 tahun . Menjengkelkan sekali "
Penceramah : "Kamu dengan dia ada dendam apa ?"
Arwah : "Sangat besar !"
Penceramah : "Besarnya sampai bagaimana ? Bila kamu tidak katakan , kami tidak jelas, bagaimana caranya kami membantumu ?"
Arwah : "Tanya saja kepada dia, dia paling jelas. Saya sendiri juga tidak jelas "
Pandita : "Dia telah lupa kehidupan masa lampaunya. Kalau kamu pasti masih ingat. Coba ceritakan kepada kami "
Arwah : "Saya sudah pernah memberitahukan kepada dia. Dia juga mengatakan kepada saya. Ai Ya... ! Tidak ingat lagi kejadiannya . Dia yang ingat, saya tahu dia masih ingat !"
Pandita : "Baik, kita tanya kepada dia, kamu pasti sedang membohongi kami "
Arwah : "Ha ... Ha ... Ha ... Coba tanya dia, hidup tidak matipun tidak, mau mati ? terlalu nyaman ! Mau hidup ? Saya tidak akan membiarkan kamu hidup dengan tenang ! "
Penceramah : "Liu Chiu Ling telah lupa , tolong kamu yang ceritakan, jangan mengulur-ulur waktu lagi. Pandita berwelas asih akan menceritakan kisah ini kepada banyak orang "
Pandita : "Kamu ( Liu Chiu Ling ) berlutut di sana . Jangan banyak bergerak !"
Arwah : "Kamu ( Liu Chiu Ling ) sudah kalah , kau lihat berapa banyak orang yang membantuku ? Kau sudah kalah, kau betul-betul sudah kalah !"
Penceramah : "Apakah kalian adalah teman bermain dari kecil hinga dewasa ? Ataukah teman, famili , saudara ?"
Arwah : "( menangis ) Dia adalah kakak perempuanku . Hu .... Hu ... Saya ingin sekali melupakan kalau dia adalah kakak saya, membuat saya sangat menderita dan sangat sedih . Hu ... Hu ... "
Pandita : "Sekarang kami sudah tahu kalau dia adalah kakak perempuanmu, coba ceritan kekesalan dalam hatimu "
Arwah : "Saya tidak menangis "
Penceramah : "Kamu memang sangat berani"
Pandita : "Dia adalah kakakmu, siapa namanya ? Bagaimana kejadian yang sebenarnya ? Tolong ceritakan dengan jelas "
Arwah : "Namanya ? Tidak sama marga dengan saya . Namanya Liu Chiu Ling "
Pandita : "Itu adalah namanya kehidupan yang sekarang . Dulu siapa namanya ?"
Arwah : " Dia bernama Yang Chou Fei 杨丑妃. Saya bernama Yang Gui Fei 杨贵妃 " ( menyebut asal-asalan )
Penceramah : "Kamu telah menceritakan hubungan kalian kepada kami "
Arwah : "Betul ! Kalian sudah mengetahui semuanya, ya sudah !"
Pandita : "Kami hanya tahu bahwa kalian adalah saudara, tetapi sebab terjadinya kejadian pada masa lampau, kamu harus jelaskan dengan jelas !"
Arwah : "Saya ingin duduk dengan baik, saya tidak ingin terlihat tidak sopan, (arwah bertanya kepada Liu Chiu Ling ) apakah kamu tidak merasa bersalah kepada saya ? Coba tanya pada hatimu sendiri, apakah kamu tidak merasa bersalah kepada saya ?
Pandita : "Dia sekarang telah melupakan kejadian pada kehidupan masa lampau. Kamu ceritakan dulu sebab akibat timbulnya kejadian ini, agar semua orang bisa mengetahuinya, sahingga baru dapat membantumu "
Arwah : "Baik ! Saya akan ceritakan, kamu biarkan saya kesana sedikit "
Penceramah : "Sedikit saja, jangan sakiti dia "
Arwah : "Dia juga bermarga Yang "
Pandita : "Dia adalah kakakmu, tentu saja bermarga Yang "
Arwah : "Nama saya Yang Yue Qing berumur 22 tahun, dia bernama Yang Mei Yue berumur 23 tahun "
Pandita : "Di Tiongkok pada dinasti apa ?"
Arwah : "Kamu bisa menebak, tebaklah semalaman. yang penting saya punya waktu, dan meringankan tugasku "
Pandita : "Waktu kita terbatas, bukan semalaman menemanimu begini terus "
( Arwah kedua saat itu datang lagi )
Arwah kedua : "Ai ..... Yah ! Buat apa beri penjelasan . Tidak perlu jelaskan . Kalau mengerti, ya mengerti . Kalau tidak, ya biarkan sajalah . Jangan mengikuti saya !" ( yang dimaksud petugas pelaksana vihara )
Arwah : "Liu Khuen ! Liu Khuen ! Di sini saya yang memegang peranan. Jangan takut Liu Khuen !"
Penceramah : "Kalian teman ? atau ...... ?"
Arwah kedua : "Saya ingin mengambil nyawanya. Apakah tidak boleh ?"
Arwah : "Nyawanya tidak berharga "
Arwah kedua : "Saya ingin dia melintaskan 500 orang untuk saya "
Arwah : "Kalau begini celakalah saya , kamu tidak perlu takut dan juga tidak usah ikut campur "
Arwah kedua : "Saya ingin dia mencetak 10.000 buku suci "
Arwah : "Kamu jangan ribut lagi ! Duduk disana ! Lihat saya saja, saya bilang saya pasti mampu !"
Arwah kedua : "Kamu harus lebih galak sedikit !"
Arwah : "Ah ... ! Bikin malu saja, kalau begitu mana mirip seorang nona besar ?"
Pandita : "Betulkan ! Kamu adalah seorang nona , lalu siapakah namanya ?
Arwah : "Duduk disana ! Coba lihat , kamu seorang lelaki, tetapi dipegang banyak wanita (petugas pelaksana vihara ) , lihatlah kamu seperti apa ? Cepatlah duduk ! " ( yang dimaksud arwah kedua )
Pandita : "Kalian adalah teman ? atau dia adalah suamimu ?"
Arwah : "Kami adalah ......... saya tidak mau bicarakan lagi. Hu ..... Hu ........ ( menangis ) apakah kalian mengetahui betapa menderitanya saya ? Saya tidak ingin cerita lagi , seluruh badan saya sakit, kau mengerti tidak ? Hu .... Hu ..... "
Pandita : "Tolong jelaskan !"
Arwah : " Saya mau minum air suci ( air persembahan ) "
Pandita : "Tadi diberikan, kamu tidak minum "
Arwah : "Tadi saya tidak ingin minum ! Sekarang saya ingin minum ! Jangan urus saya, saya memang suka begini "
Pandita : "Kalau begini caramu, kamu salah ! Ini air suci Yang Maha Kuasa sangat berharga "
Arwah : "Saat ini saya yang paling besar, sebenarnya kamu mengerti tidak ?"
Pandita : "Memang kamu yang paling besar, tetapi masih ada Firman dari Guru !"
Arwah : "Jangan memakai nama Guru kalian untuk menekan saya !"
Penceramah : "Guru, juga adalah Gurumu "
Arwah : "Apa ? Saya tidak memohon KeTuhanan ( Qiu Tao ), beri saya kesempatan untuk qiu Tao, lalu saya dapat mengakui DIA sebagai Guru !"
Pandita : "Tidak boleh ! kamu mau qiu Tao harus ada Firman dari Guru, kalau kamu menceritakan kejadian ini juga ada pahalanya, mungkin suatu hari nanti kamu mempunyai kesempatan untuk memohon KeTuhanan "
Arwah : " Ai .... Yah .... ! Jangan ribut. ! Apakah ini air suci ?"
Pandita : "Betul ! "
Arwah : "Yang tadi itu Liu Khuen , 25 tahun. Di rumah saya anak paling bungsu, paling dimanja "
Pandita : "Apa hubuganmu dengan dia ?"
Arwah : "Haruskah saya ceritakan ? Bolehkah kalau saya tidak cerita ? Karena ini adalah masalah keluarga !"
Pandita : "Harus diceritakan. Setelah anda ceritakan, kami akan menjadikannya buku lalu dibagikan. Ceritakan semua kejadian pada saat itu dengan jelas, agar manusia bisa mawas diri. Itu juga merupakan suatu amal !"
Arwah : "Cerewet ! Kamu lebih cerewet dari ayahku !"
Penceramah : "Kamu ceritakan saja ! Bukan saja membantu umat di makassar , juga dapat membantu umat-umat kalangan Thien En ( kalangan vihara ) !"
Arwah : " ( menangis ) Hu .... Hu .... Betulkah kalian dapat membantuku ?"
Pandita : "Betul ! Kami sungguh ingin membantumu "
Penceramah : "Welas asih dari TUHAN YME , memahami pada kehidupan masa lampau kamu mempunyai dasar kebajikan, oleh karena itu memberi Firman pada Guru "
Arwah : "Jangan bicara lagi ! Saya tidak mempunyai kebajikan ! Hu .... Hu ..... saya telah membunuh orang tuaku. Saya tidak sengaja membunuh papa mama, sehingga akhirnya saya tidak mempunyai orang tua, dan kalian menggangguku . Hu .... Hu ... "
Penceramah : "Kalian satu ayah lain ibu atau satu ibu lain ayah ?"
Arwah : "Ai .... Yah ! Bicaramu semakin ngawur saja , sehingga semua masalah dalam keluarga-ku kau salaf tafsirkan !"
Penceramah : "Baiklah ! kalau begitu kamu saja yang jelaskan dengan jelas. Kalau kamu tidak menjelaskan dengan jelas, tentu kita akan menebaknya. Mengira kamu tidak mempunyai ayah dan ibu "
Arwah : "Saya dengan dia satu ayah satu ibu !"
Penceramah : "Pada dinasti apa ? Lalu kami baru dapat menjadikannya buku untuk memperingatkan umat-umat di dunia , dengan demikian , bukan hanya di Makassar, Surabaya , Jakarta saja , melainkan semua kota bisa mengetahui kisah ini "
Arwah : "Jangan berlutut ! Tidak boleh berlutut , kalau tidak jangan halangi saya ! Pergi sana !" ( yang dimaksud penceramah )
Pandita : "Tolong kamu jelaskan , karena waktu kita sangat terbatas "
Arwah : "Kalian jangan mengerumuni saya, khususnya kamu ! Kamu berlutut agak jauh sedikit kesana, antara wanita dan pria harus ada jarak ! Berlutut agak jauh sedikit !" ( yang dimaksud adalah Pandita )
Penceramah : "Harap kamu bisa mengerti . Kami semua ingin membantumu "
Arwah : "Di Propinsi Guan Zhou Kabupaten Gui . Keluarga saya adalah keluarga besar dan berada, pembantu di rumah ada 20 orang "
Pandita : "Oh ! Anda adalah putri bangsawan "
Arwah : " Tentu !"
Penceramah : "Luar biasa . Coba lihat ! Kami semua bukan bangsawan "
Arwah : "Kalau bukan , jangan terlalu dekat !"
Penceramah : " Baik .... baiklah !"
Arwah : "Pokoknya yang saya tahu, setiap kali datang ke tempat ini pasti tidak mengambil nyawanya . Guru kalian selalu bantu ... bantu ..... bantu .... kalian juga bantu , bantu , bantu . Sehingga kami tidak bisa mendekat. Oleh karena itu , saya juga harus menjaga penampilan saya . Kalian takut saya mencelakainya , pokoknya saya menggunakan pikiran saya saja, itu sudah dapat mencelakainya "
Pandita : "Waktunya sudah berapa lama ?" (waktu sejak arwah datang ke vihara )
Arwah : "Aii ...! Sebenarnya sekarang saya menyesal. Masih sempatkah saya menyesal ?"
Penceramah : "Tentu bisa ! Asal kamu ceritakan kejadian yang sebenarnya kepada kami, dapat digunakan untuk menasehati orang "
Arwah : "Sekarang saya sudah menyesal, apakah boleh saya tinggal di vihara ini ? Membantu vihara , boleh tidak ?"
Pandita : "Tidak boleh ! Ini bukan ragamu, ini adalah raga San Chai. Dia mempunyai jalan hidup tersendiri, kamu juga mempunyai jalan hidup sendiri "
Arwah : "Saya tidak mempunyai kehidupan lagi, tidak punya lagi "
Pandita : "Kamu hidup di alam tak berwujud, sedangkan San Chai menjalani hidupnya sendiri. Kalian sama sekali tidak ada sangkut pautnya. Hari ini pelintasan umum 3 alam disebarluaskan, barulah dia mempunyai kesempatan meminjamkan raganya kepada kamu. Kamu tidak boleh mengambil raganya !"
Penceramah : "Kamu mempunyai amal, Guru pasti akan bantu mengaturnya . Bicaralah agar kita dapat membantumu , kamu telah meninggalkan dunia ini, kamu tidak mengerti waktu lagi, kami terus membantu anda melihat waktu, kamu datang sudah lama, jangan sia-siakan kesempatan ini. Kalau kesempatan ini berlalu maka kamu tidak mempunyai kesempatan lagi "
Arwah : "Saya dicelakai pada tahun 3 Min Guo ( tahun 1914 ) Saya dengan dia adalah saudara kandung yang baik. Ayah dan ibu paling menyayangi saya, ibu sudah berusia lanjut baru melahirkan kami. Pada saat itu saya berusia 20 tahun, ayah dan ibu sudah berusia 60 tahun. Kemudian karena dia berkenalan dengan Fang Chuen "
Pandita : " Siapakah Fang Chuen ini ?"
Arwah : "Fang Chuen adalah kenalan baik keluargaku, dia sering datang bertamu ke rumah kami, dia berumur 23 tahun seumuran dengan kakakku"
Pandita : "Selanjutnya bagaimana ?"
Arwah : "Selanjutnya , saya sudah lupa "
Penceramah : "Tidak apa-apa, kamu pelan-pelan pikirkan "
Arwah : "Sudah lupa ! Lupa ! Sudahlah, jangan bicarakan lagi. Saya tidak ingin melihatnya, pokoknya kelak saya akan tetap menghantuinya "
Pandita : "Jangan begitu ! Saling membalas dendam apa gunanya ?"
Penceramah : " Welas asih TUHAN YME menurunkan Tao ini, juga karena ingin kita mengimpasi karma kita "
Arwah : "Tetapi ini adalah masalah intern keluargaku, bagaimana bisa saya ceritakan kepada kalian "
Pandita : "Tetapi Guru ada Firman agar kami menyelesaikan masalah ini, kalau tidak ada Firman dari Guru, kami juga tidak akan menyelesaikan masalah ini "
Arwah : "Kami adalah keluarga besar, rahasia keluarga mana boleh diceritakan kepada orang lain "
Pandita : "Walaupun keluarga besar, tetapi semua itu adalah kejadian masa lampau tahun 3 Min Guo ( 1914 ) , waktu itu kami semua belum lahir, kita juga tidak mengetahuinya. Kamu ceritakan, orang-orang juga tidak mengetahui siapa itu Yang Yue Qing "
Arwah : "Masih ada ! Masih ada ! Kamu bawa saya pulang, saya akan menunjukkan kepada kalian rumah saya, masih ada kok !"
Pandita : "Tetapi itu di daratan Tiongkok, sekarang kita ada di Indonesia, kami tidak mengetahuinya, dan buku ini tidak mungkin disebarkan sampai ke daratan Tiongkok. Bila kamu menjelaskan secara rinci kami pasti membantu kamu menyelesaikannya "
Arwah : "Waktu itu Fang Chuen berkenalan dengan kakak, mereka berhubungan tanpa sepengtahuan ayah dan ibu, Liu Khuen saat itu adalah pengurus di rumah kami "
( Saat itu arwah kedua datang lagi )
Arwah kedua : "Dengan mereka tidak terlalu cerewet, masih mau bicara apa lagi ?"
Arwah : "Masih ada waktu , kau tidak perlu khawatir, saya menyuruh kau duduk, kenapa kau datang lagi ?"
Arwah kedua : "Tidak perlu bicara terlalu banyak, Langsung buka harga saja, selesai !
Arwah : "Kau jangan ikut campur, saya suka mengulur-ulur waktu. Kau cepat duduk !"
Arwah kedua : "Ai.... Yah ! Berbicara dengan kalian yang membina diri memang tidak ada gunanya !"
Arwah : "Kau cepat duduk !"
Arwah kedua : "Pergi kau ! Pergi kau ! ( yang dimaksud pandita ) Saya tidak mau melihatmu , pergi kau !
Pandita : "Kamu dengarkan perkataan nonamu ! Petugas vihara tolong awasi dia !"
Arwah : "Kau jangan datang lagi ! Kau cepat duduk ! "
Pandita : "Nonamu sudah marah, menyuruh kamu cepat duduk !"
Arwah kedua : "Langsung saja tentukan harganya. Buat apa bicara begitu banyak ( panjang lebar ) "
Arwah : "Tidak ! Kalau begitu tidak seru. Kau cepat pergi ! kalau tidak, saya tidak akan membagikannya padamu ( yang dimaksud pahala ) "
Arwah kedua : " Pergi .... pergi "
Arwah : "Kau jangan urus saya. Dengar tidak ?
Arwah kedua : "Saya berbicara dengan dia "
Arwah : "Kau tidak mungkin dapat menceritakannya. Dia adalah lelaki. Lelaki dengan lelaki mana bisa akur !"
Arwah kedua : "Saya lagi bicara"
Arwah : "Kamu jangan urusi saya !"
Arwah kedua : "Bicara yang jelas . Jangan ada yang kurang. Bila ada yang kurang , saya akan membuat perhitungan dengan kau !"
Arwah : "Kau berani membuat perhitungan dengan saya ? Huh !"
Arwah kedua : "Kau harus bicara yang jelas "
Arwah : " Pergi kau ! Kau ...... "
Arwah kedua : " Saya pasti pergi, karena tidak mendapat Firman untuk datang, kau cepat katakan ! Tidak usah banyak bicara dengan mereka lagi . Tidak katakan mereka juga tidak mengerti !"
Arwah : "Kau pergi saja !"
Arwah kedua : " Guru kalian Ci Kung, dilihat saja sudah menjengkelkan, memberi Firman hanya kepada 1 orang untuk datang, tidak memberi Firman kepada saya untuk datang "
Arwah : "Karena Dia mengetahui bahwa saya dapat menceritakannya "
Arwah kedua : "Kalian semua menjauh. Saya adalah orang yang sopan. Saya tidak mengatakan kepada kalian bahwa saya tidak menginginkan nyawanya sekarang, tetapi saya akan dengan perlahan menyiksanya. Mengerti ?"
Arwah : "Saya menyuruhmu pergi. Kau dengar tidak ?
Arwah kedua : "Sudahlah ! Saya sudah mau pergi juga . Fa Li Zu juga mendesak saya, saya tidak ingin bicara lagi dengan kalian, tetapi saya dapat dengan perlahan menyiksanya "
( Lalu arwah kedua pergi )
Arwah : "Saya ingin minum air suci "
Pandita : "Bawakan air suci untuk dia , lanjutkan ceritanya "
Arwah : "Haruskah saya menceritakannya ?"
Pandita : "Harus ! Dengan demikian barulah kami dapat membuatnya menjadi buku "
Arwah : "Pengurus rumah juga adalah bendahara di rumahku, tidak tahu mengapa saya telah buta "
Pandita : " Ohh ! Saya sudah tahu "
Arwah : "Saya tidak tahu mengapa bisa terpikat padanya , menjengkelkan. Selanjutnya , Fang Chuen adalah seorang play boy, suka berhura-hura, coba lihat matamu ( Liu Chiu Ling ) , belajar dari orang lain begitu, setidaknya Liu Khuen masih seorang bendahara, masih mempunyai uang, kalau kau ? Pergi mencari orang yang hanya tahu menghamburkan uang dan tidak tahu mencari uang "
Pandita : "Ini air suci "
Arwah : "Sudah tidak ingin minum lagi, tadi ingin minum tidak diambilkan "
Pandita : "Maaf .... maaf "
Arwah : "Kemudian ayah dan ibu mengetahui hubungan saya dengan Liu Khuen, saya hanya kekurangan uang untuk membeli perlengkapan alat rias. Setelah mengambil uang, kemudian kami bertengkar, ayah dan ibu mengetahui ini dan sangat marah, dengan ketat mengawasiku, tidak lagi menjagaku dengan telaten, mereka selalu menyayangiku. Mengapa saya bisa begitu ? Pasti kau yang melapor kepada mereka, betulkan kau yang melapor ? Beritahu saya, betul tidak ? Jawab saya, sudah bisu ? " ( yang dimaksud Liu Chiu Ling )
Pandita : "Lalu mengapa sampai Liu Khuen pun ikut meninggal ?"
Arwah : "Tidak tahu mengapa, Fang Chuen pun mengetahui masalah ini, dan dia juga mengetahui bahwa ayah dan ibu bertengkar dengan saya, dia hanya ingin mengejar harta kekayaan keluarga kami "
Pandita : "Kemudian bagaimana ?"
Arwah : "Hei .. kakak ! Saya ingin tanya padamu, apakah Fang Chuen pernah mencintaimu, ataukah hanya mencintai harta ayah dan ibu ? Coba kau katakan !"
Pandita : "Dia telah lupa masa lampaunya "
Arwah : "Kau sangat menyukainya, kami berempat pada tahun 1 Min Guo ( 1912 ) mulai merencanakan untuk mengambil harta kekayaan keluarga kami. Hu .... Hu .... Saya tidak tahu bahwa ayah dan ibu sebenarnya masih menyayangiku, saya mengira bahwa mereka selamanya tidak akan menyayangiku lagi. Hu ... Hu .... saya tidak mempunyai niat demikian, saya mengira mereka tidak menyayangiku lagi "
Pandita : "Kalian berempat membunuh hanya karena harta kekayaan ?"
Arwah : "Fang Chuen di tempat lain ada membuka pabrik. Dan semua perusahaan atas nama ayah dia pindahkan ke pabriknya, ayah dan ibu mulai mengusut. Saya mengira sudah tidak ada masalah. Benar kami mengira tidak akan terjadi sesuatu. Pada saat kami hampir berhasil..... Saya tidak ingin melanjutkan ceritanya lagi "
Penceramah : "Apakah karena ayah dan ibu mengetahui ? Kemudian kalian melakukan hal itu . "
Arwah : "Saya tidak ingin menceritakannya lagi, khawatir menyakiti perasaan ayah dan ibu "
Pandita : "Ayah dan ibumu telah meninggal. Bila diceritakan baru ada penyesalan dalam hati, punya hati untuk bertobat. Tadi Guru berkata , agar kita membawa hati yang penuh pertobatan , hati yang penuh rasa terima kasih . Hari ini kita telah bersalah, tidak apa-apa yang penting kita bertobat orang tua kita. Walaupun orang tua kita telah meninggal, ada kesempatan ini untuk mengatakannya, juga termasuk bertobat kepada orang tua "
Arwah : "Pada detik-detik terakhir, pada saat kami mendekati keberhasilan, Fang Chuen lalu membawa saya dan Liu Khuen ke suatu tempat, dia membohongi kami bahwa di sana ada harta karun, dia juga mengatakan kalau kami telah mendapatkan harta tersebut, kami dapat hidup bebas dan bersenang-senang, saya yang telah mabuk dan kerasukan setan, tidak sadar apa yang telah saya lakukan "
Pandita : "Kemudian kalian pergi dengan dia , benar tidak ?"
Arwah : "Kemudian dia memberi minuman yang membuat kami pusing, lalu kami pingsan, dengan demikian saya dan Liu Khuen dibunuh, tanpa tahu sebabnya "
Pandita : "Ohh ! Tanpa tahu sebabnya kalian dibunuh. Lalu Fang Chuen sekarang berada dimana ?"
Arwah : "Belum cukup, dia lalu membuat jasad kami .... Aaii !"
Pandita : "Bagaimana ? Apakah dia membuang jasad kalian ? Ataukah memutilasi jasad kalian ?"
Arwah : "Tidak begitu sadis "
Penceramah : "Apakah dia mengubur jasad kalian ataukah dibuang di atas gunung ?"
Arwah : "Dia yang telah menyembunyikan banyak uang ditubuh kami, lalu jasad kami dibuang ke danau bagian tenggara, sebenarnya dia ( Liu Chiu Ling ) tidak sepenuhnya dapat disalahkan, itu juga karena dia terlalu mencintai Fang Chuen, dia juga tidak mengetahui tentang kematian kami yang mati terbunuh "
Pandita : "Kakakmu juga tidak mengetahui pembunuhan tentang kematianmu ?"
Arwah : " Itu adalah siasat Fang Chuen sendiri, Dia sangat bersedih, dia mengira adiknya ini telah meninggal, karena mengingat hal ini, saya tidak membunuhnya "
Penceramah : "Dia benar-benar tidak mengetahui siasat licik Fang Chuen ?"
Arwah : "Tidak tahu, Fang Chuen memberitahukan dia kalau saya dengan Liu Khuen kawin lari, kemudian terjatuh ke sungai dan meninggal, saya sangat membenci dia, tetapi dia lebih menderita dari saya "
Pandita : "Kemudian, kehidupannya dengan Fang Chuen tidak terlalu baik, benar tidak ?"
Arwah : "Sebenarnya , dia seperti sekarang ini juga ada penyebabnya "
Pandita : "Apa penyebabnya ?

0 Response to "Kisah Hukum Karma Liu Chiu Ling 1"
Post a Comment