Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie menyampaikan pidato politik terakhirnya dalam pembukaan Musyawarah Nasional Luar Biasa Partai Golkar di Bali Nusa Dua Convention Center, Sabtu (14/5/2016) malam.
Dalam kesempatan ini, Aburizal pun menyatakan bahwa rekonsiliasi yang dilakukan dua kubu Partai Golkar dalam munaslub ini dilakukan atas kesadaran tiap kubu yang bertikai.
"Kami tidak terpaksa dan tidak terpaksa dalam melaksanakan Munaslub Partai Golkar ini," kata Aburizal, Sabtu malam.
Ketua umum Partai Golkar yang terpilih dalam Munas Riau pada 2009 dan Munas Bali pada 2014 ini pun menyatakan bahwa konflik seharusnya selesai saat Mahkamah Agung memenangkan gugatan yang diajukan kubu Munas Bali.
"Pemerintah juga mengesahkan kepengurusan rekonsiliasi tanpa syarat apapun, termasuk untuk diselenggarakannya Munas Luar Biasa," tutur Aburizal.
Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM memang mengesahkan kepengurusan Partai Golkar dengan Aburizal sebagai ketua umum dan Agung Laksono sebagai wakil ketua umum itu hingga 2019.
Namun, Aburizal mengaku tidak ingin mempertahankan kekuasaan itu.
"Kalau untuk sekedar mempertahankan kekuasaan, kita tidak berada di sini malam ini menyelenggarakan munaslub," tutur Aburizal.
"Namun saya ingin meminjam kata-kata Jawa, saya memilih jeneng ketimbang jumeneng. Saya memilih nama baik ketimbang kedudukan," lanjutnya.
Menurut Aburizal, kekuasaan seharusnya dimanfaatkan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, kekuasaan bagi Aburizal tidak seharusnya dijadikan tujuan.
"Kekuasaan cuma instrumen mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri," ujarnya.
Karena itu dalam pidato terakhirnya sebagai ketua umum, Aburizal berharap para kandidat yang bersaing merebut kursi ketua umum untuk tetap menjaga persatuan.
"Jadikanlah Golkar pohon rindang yang teduh, yang menaungi semua spektrum di dalamnya," kata Aburizal.
Baca Juga :

0 Response to "Pidato Politik Terakhir Aburizal, Pilih Nama Baik ketimbang Kedudukan"
Post a Comment