Ternyata,
dibalik perlawanan Yusril terhadap Ahok memiliki dua sebab, pertama persoalan
sengketa lahan pada tahun 2013, pada masa gubernur Jokowi, pemprov DKI memiliki
lahan seluas 1.4 hektar dengan dua sertifikat, yang berada di ujung jalan
Thamrin samping hotel Sari Pan Pacific hingga kementrian ESDM, Jakarta Pusat.
Nah, lahan tersebut sebenarnya milik Pemprov DKI yang kemudian diberikan pada
Bank DKI sebagai penyerta modal, waktu berjalan sekian lama, ternyata lahan
tersebut malah tidak dikelola oleh Bank DKI, parahnya, aset tersebut malah
dipinjamkan kepada pihak Swasta PT Bumi Perkasa Propertindo, oleh pihak swasta
tersebut kemudian malah diakui sebagai aset milik mereka.
Ketika Jokowi menjadi
gubernur, jokowi meminta bantuan Yusril untuk menyelesaikan lahan sengketa
tersebut, tapi sayang, lahan tersebut tidak sampai selesai ditangan Yusril,
menurut pengakuan Yusril, ia memberi masukan kepada Jokowi bahwa seharusnya
yang menjadi penggugat atas lahan tersebut adalah Pemprov DKI sebagai pemilik
utama sertifikat, bukan Bank DKI.
Kedua, persoalan lahan di rusun jakarta Barat pada masa
gubernur Jokowi yang akhirnya diselesaikan dengan baik oleh Yusril.
"Namun, setelah Pak Ahok jadi gubernur kan Pak Ahok jalan sendiri," kata
Yusril sebagaimana yang dikutip oleh Tribunnews.com
Penyebab itulah yang
kemudian membuat Yusril “sakit hati” terhadap Ahok, Yusril merasa dirinya
ditelantarkan, tidak dianggap, tidak lagi diperhatikan layaknya pada masa
dahulu kepemimpinan Jokowi.
Tapi benarkah niat jahat Yusril untuk menumbangkan
Ahok hanya gara-gara ingin dilihat masyarakat bahwa dirinya lebih hebat dari
Ahok?
Seharusnya sebagai seorang negarawan, Yusril tidak menceritakan niat
jahatnya tersebut ke masyarakat, tapi menyatakan bahwa ia benar-benar ingin
membangun Kota jakarta dengan sebenar-benarnya, bukan karena
faktor Ahok.
Manusia adalah tempat salah dan lupa, mungkin sekali ini Yusril
lupa bahwa dirinya sedang menghadapi gubernur Jakarta yang telah menumbangkan banyak
koruptor di jajaran Pemprov DKI dan DPRD. mungkin Yusril Lupa bahwa Lawan
politiknya adalah wakil dari jokowi itu sendiri, sehingga dengan menceritakan
masa lalunya, mengisahkan kebaikan-kebaikan Jokowi terhadapnya, bukan tidak
mungkin akan menyerang dirinya sendiri.
Mungkin Yusril tidak ingat bahwa Ahok
adalah refresentatif buah pemikiran Jokowi, Pemikiran Ahok adalah pemikiran
jokowi, Keputusan Ahok adalah keputusan Jokowi, sehingga dengan membeda-bedakan
Jokowi dan Ahok tidak saja “makan hati” tapi juga membunuh karir politiknya
sendiri.
Jauh-jauh hari sebelum benar-benar mencalonkan diri sebagai
gubernur Jakarta, setidaknya Yusril bisa meluruskan lagi niatnya menjadi
gubernur DKI, niat benar-benar ingin membangun Kota Jakarta, bukan karna
didasari ‘sakit hati’ pada Ahok. Di dalam politik, tidak ada lawan yang abadi
tapi kepentingan yang abadi, bila dikemudian hari Yusril kalah oleh Ahok, maka
Yusril dengan lapang dada harus merelakan Ahok menjadi gubernur DKI tentu
dibantu oleh pemikiran-pemikirannya yang cerdas, tidak mengganggu Ahok apalagi
menjegal Program Ahok yang ujung-ujungnya akan membuat karir politiknya
tenggelam dimakan waktu.
Yusril harus menyadari bahwa Jokowi dan Ahok adalah
akar rumput, siapa pun yang melawan mereka, rakyat diseluruh indonesia akan
berbondong-bondong menjadi yang terdepan membela Jokowi Ahok. Yusril harus
ingat bahwa Jokowi dan Ahok bukanlah musuh dalam politik, mereka hanya lawan
politik yang kebetulan berbeda pemikiran dengan yusril dalam membangun negara.
Jadi bersainglah secara sehat sebab perlawanan Yusril terhadap Ahok seperti
persaingan dalam perlombaan, bukan permusuhan yang mengakibatkan ‘chaos’,
hancur leburnya negara demi kepentingan pribadi semata.(Coretan dari Kompasiana)
Baca Juga :


0 Response to "Jokowi dan Ahok Mengingatkan Penyebab "Sakit Hati" Yusril"
Post a Comment