Mengenal Tradisi Cheng Beng (Sembahyang Kubur)


Apapun sukunya, ras, latar belakang, dan agamanya, sudah pasti semua mengajarkan bahwa kita harus menghormati dan menghargai orang tua dan leluhur kita. Bila bukan karena perjuangan, jasa-jasa, dan kerja keras mereka, kita tidak akan terlahir ke dunia ini dan menjadi apa adanya sekarang ini. Apapun yang kita perbuat, kita tidak akan pernah bisa membalas jasa-jasa leluhur kita terdahulu lagi. Bagi orang Tionghoa di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, bentuk penghargaan tersebut salah satunya terwujud pada hari raya Cheng Beng (Sembahyang Kubur)/ Ka ci sebutan dalam khek.

Hari raya Qingming atau lebih dikenal dengan hari raya Cheng Beng adalah ritual tahunan yang dilaksanakan oleh kaum Tionghoa di seluruh dunia termasuk di indonesia untuk bersembahyang dan ziarah ke kuburan orang tua dan para leluhur yang sudah meninggal. Namun pada prakteknya, bagi keluarga yang akan berziarah, mereka dapat datang sesuai dengan hari yang mereka sepakati bersama sesuai renggang waktu yang diperbolehkan.

Sejarah
Hari raya Cheng Beng dasarnya bukan bersumber dari akar budaya China semenjak awal ataupun bersumber dari ajaran agama-agama yang ada di China. Ada beberapa versi yang menceritakan tentang awal mula perayaan hari raya Cheng Beng namun di sini hanya akan mengulas satu saja.

Menurut salah satu cerita rakyat yang beredar, kebiasaan seperti itu atas perintah Zhu Yuanzhang, kaisar pendiri Dinasti Ming. Zhu Yuanzhang terlahir dari keluarga yang sangat miskin. Pada masa itu kemiskinan dan kesusahan sedang melanda dataran China. Makanan sangat susah didapat dan orang tega saling membunuh hanya demi mendapatkan makanan. Karena takut terjadi apa-apa kepada  Zhu Yuanzhang, kedua orang tuanya meninggalkannya di biara untuk diasuh dan dibesarkan oleh para biksu. Saat itu, hanya di biaralah tempat teraman dan terbaik dimana seorang dapat hidup. Selain karena tidak ada yang berani menyerang biara, para biksu menghasilkan dan mengolah makanannya sendiri. Seiring berjalannya waktu, Zhu Yuanzhang bertumbuh menjadi dewasa dan akhirnya terlibat pemberontakan menggulingkan kekaisaran sebelumnya hingga akhirnya ia menjadi kaisar mengawali berdirinya dinasti Ming.

Dalam masanya menjadi seorang kaisar, sang penguasa bukanlah seorang yang lupa diri dan takabur.  Ia teringat akan orangtuanya dan ingin melakukan penghormatan dengan mengunjungi makam mereka. Namun, sang dirinya tidak mempunyai petunjuk sedikitpun kemana harus mencari sebab ia masih sangat kecil sewaktu ditinggalkan di biara. Dalam rangka menemukan makam orang tuanya, ia memerintahkan semua rakyatnya untuk melakukan ziarah ke makam leluhur dan orang tua mereka. Setiap keluarga harus membersihkan makam orang tua atau leluhur mereka yang mereka datangi, memperbaikinya bila ada yang rusak, membawa makanan, dan meletakkan kertas di atas batu nisa makam. Kertas kuning dan putih menandakan kedua pasangan telah meninggal namun kertas merah menandakan salah satu pasangannya masih hidup. Sesudah semua rakyatnya selesai melakukan hal itu, iapun menitahkan petugas-petugas kerajaan berkeliling dan memeriksa ke seluruh pelosok negeri untuk mencari makam orang tuanya. Setelah menemukannya iapun bersegera menuju kesana untuk berjiarah dan melakukan penghormatan tepat seperti apa ia sendiri perintahkan rakyatnya untuk mengerjakan. Semenjak saat itulah hingga masa sekarang, masyarakat Tionghoa dari seluruh dunia akan berkumpul dan melakukan ziarah ke makam orang tua ataupun leluhur mereka.


Berdasarkan Tradisi Tionghoa, saat melakukan pembersihan makam, anggota keluarga harus membawa makanan, minuman, buah-buahan dan uang kertas khusus sembahyang kuburan tersebut untuk didoakan dan dipersembahkan kepada leluhur atau sanak keluarga yang telah meninggal dengan meletakkannya di depan kuburan. Mereka juga akan membersihkan dan mengecat ulang tulisan yang diukir pada batu Nisan serta menambahkan tanah baru kuburan. Setelah memberikan penghormatan dan sembahyang, makanan dan minuman yang dibawa tadi dapat di makan di tempat ataupun dibawa pulang kembali. Uang kertas yang diperuntukan khusus sembahyang dibakar di sekitar lokasi kuburan tersebut dengan harapan akan tersampaikan untuk memenuhi berbagai keperluan para leluhur mereka di alam baka.
Dan untuk masyarakat Tionghoa yang berada di Indonesia sebagai contoh orang tionghoa Medan maupun Kalimantan yang sedang berada dijakarta, sebagian besar akan pulang menuju kampung halaman dan berziarah ke makam leluhur mereka karena sebagian leluhur tionghoa berasal dari sana.

Tradisi ini sendiri membawa berkah tersendiri bagi warga penjual alat sembahyang dan penjual buah karena sudah pasti diperlukan untuk melakukan sembahyang. Tradisi ini biasanya dalam 1 tahun diadakan 2x dibulan yang berbeda yaitu bulan 3 dan 7 dalam penanggalan lunar, tetapi bagi yang bermukim dijakarta biasanya hanya diadakan 1x saja. Dan pada cheng beng yg kedua akan ada Festival yg unik yakni Sembahyang rebut dan berikut ulasannya Festival Hantu Sembahyang Rebut Di Singkawang.

Baca Juga : Kisah Gadis Singkawang Yang Hilang Di Taiwan Selama 24 Tahun

0 Response to "Mengenal Tradisi Cheng Beng (Sembahyang Kubur)"

Baca Juga ...

loading...