Seni musik Delapan Dewa Yang Berumur Ratusan Tahun Di Sungai Duri

Suara petikan, gesekan serta tiupan dari alat-alat musik tradisional ini mengalun dan menggema di sebuah kelenteng yang berada di pinggiran laut kawasan Sui Duri Kecamatan Sui Raya.
Suara musik yang terdengar begitu khas. Perpaduan antara suara kecapi dengan alat musik gesek seperti biola dan seruling menghasilkan instrumen yang enak didengar.
Bila dihayati sejenak dengan mendengarkan musik tersebut seolah kita sedang berada di negeri Tiongkok atau sedang menyaksikan film-film klasik dari negeri Tiongkok.
Seperti yang dikatakan oleh Sie Cit Phiau (49) warga Sui Duri menuturkan musik tersebut oleh mereka para pemusik menamakannya Delapan Dewa.
Sie Cit Phiau sendiri merupakan satu di antara pemain musik Pat Jim (dalam bahasa khek yang artinya Delapan Dewa) yang mereka mainkan saat ini sudah memasuki generasi ke empat, yang artinya sudah lebih dari seratus tahun keberadaan kesenian tradisional tersebut masih dipertahankan.
Ia menjelaskan satu persatu nama Alat musik tersebut dalam bahasa Khek di antaranya Kesong (Fu Hian), Theu Hian, Jong Khin (Kecapi), Sam Hian, Nyi Hian, Siau (seruling), Jo pui (mangkuk), dan Tok.
Musik Delapan Dewa ini bisa di temui ‎ke klenteng Ci Sian Si Miau yang merupakan kelenteng bagian dari Majelis Khonghucu Indonesia (Makin) di Desa Sui Duri kecamatan Sui Raya Kab Bengkayang.
Saat dikunjungi oleh sejumlah wartawan, para pemain musik delapan dewa ini terlihat sedang sibuk latihan di kelenteng yang berada di pinggiran pantai ini.

0 Response to "Seni musik Delapan Dewa Yang Berumur Ratusan Tahun Di Sungai Duri"

Baca Juga ...

loading...